Saat memutuskan mengadakan training, pertanyaan pertama yang biasanya muncul adalah "materinya apa" atau "trainernya siapa". Padahal ada pertanyaan lain yang sering terlewat dan justru menentukan seberapa besar dampaknya: format training apa yang paling cocok untuk kebutuhan itu? Materi bagus dengan format yang salah tetap saja hasilnya kurang maksimal.

Banyak perusahaan otomatis memilih format kelas klasikal — semua orang duduk, dengarkan trainer, lalu selesai — untuk hampir semua jenis kebutuhan training. Padahal tidak semua kebutuhan cocok dengan format ini.

Tiga Format Training yang Paling Umum Dipakai

  • Kelas klasikal (classroom training). Cocok untuk materi yang sifatnya konseptual dan perlu dipahami bersama sebagai satu kelompok, misalnya kebijakan baru perusahaan, dasar-dasar layanan pelanggan, atau pengenalan produk baru. Kurang efektif untuk keterampilan teknis yang butuh praktik langsung berulang.
  • On-the-job training. Karyawan belajar langsung sambil mengerjakan tugas nyata, didampingi staf senior atau supervisor. Cocok untuk keterampilan teknis dan operasional, seperti cara menjalankan mesin, prosedur kasir, atau alur kerja gudang — sesuatu yang paling efektif dipelajari lewat praktik langsung, bukan penjelasan di kelas.
  • Mentoring atau coaching individual. Cocok untuk pengembangan yang sifatnya personal, seperti mempersiapkan calon supervisor atau membantu karyawan yang kinerjanya perlu perhatian khusus. Formatnya lebih personal dan berkelanjutan, bukan sesi satu kali.

Cara Menentukan Format yang Tepat

Pertanyaan sederhana ini bisa membantu menentukan format mana yang paling sesuai:

  • Apakah ini keterampilan teknis atau pemahaman konsep? Keterampilan teknis biasanya lebih cocok dipelajari lewat praktik langsung (on-the-job), sementara pemahaman konsep bisa efektif lewat kelas.
  • Berapa banyak orang yang butuh training ini sekaligus? Kalau menyangkut banyak orang dengan kebutuhan yang sama, kelas klasikal lebih efisien. Kalau menyangkut satu-dua orang dengan kebutuhan spesifik, mentoring lebih tepat.
  • Seberapa cepat hasilnya perlu terlihat di pekerjaan sehari-hari? On-the-job training biasanya memberi dampak yang lebih cepat terlihat karena langsung dipraktikkan di pekerjaan nyata.
  • Apakah kebutuhannya berkelanjutan atau sekali jadi? Pengembangan yang sifatnya bertahap, seperti mempersiapkan seseorang untuk naik jabatan, lebih cocok dengan mentoring dibanding sesi training satu kali.

Format Bisa Dikombinasikan, Tidak Harus Pilih Satu

Dalam praktiknya, format training terbaik sering merupakan kombinasi. Misalnya, pengenalan konsep dasar bisa disampaikan lewat kelas singkat, lalu dilanjutkan dengan on-the-job training untuk praktiknya, dan ditutup dengan pendampingan singkat dari supervisor selama beberapa minggu pertama penerapan.

Memilih format yang tepat sebelum menentukan materi dan trainer akan membuat anggaran training perusahaan Anda bekerja lebih efektif — bukan sekadar menghabiskan anggaran tahunan, tapi benar-benar menjawab kebutuhan tim di lapangan. Kalau perusahaan Anda belum yakin format training apa yang paling sesuai untuk kebutuhan tim saat ini, tim kami bisa bantu memetakannya bersama — mulai dari Konsultasikan Kebutuhan Training Anda.